Sabtu, 05 Desember 2009

Flu babi , definisi dan penjelasan

BAB I
PENDAHULUAN

A.DEFINISI FLU BABI

Flu babi atau influenza babi adalah penyakit sistem pernapasan akut yang terjadi pada babi. Penyakit ini disebabkan virus influenza tipe A. Meski tingkat keparahan penyakit sangat tinggi, namun angka kematian terbilang rendah, antara satu hingga empat persen.

babi (Inggris:Swine influenza) adalah kasus-kasus influensa yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi. Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai Influenzavirus C atau subtipe genus Influenzavirus A[1]



Diagram Virus Influenza

Babi dapat menampung virus flu yang berasal dari manusia maupun burung, memungkinkan virus tersebut bertukar gen dan menciptakan galur pandemik.

Sedangkan Virus Flu Babi (H1N1) adalah gabungan dari virus flu babi dengan virus flu manusia. virus H1N1 (flu babi) 6% dari total penderita. Masih lebih rendah dari angka kematian dari virus flu burung (H5N1) yakni sekitar (60% sampai 90% dari total penderita). Namun Flu babi tidak menular melalui daging babi yang telah diolah. Virus flu babi mati pada suhu 70 derajat Celsius.
Sebagian besar virus flu babi merupakan turunan virus H1N1, namun ada beberapa turunan virus ditemukan pada babi seperti H1N2, H3N1, H3N2. Babi juga dapat terinfeksi virus flu burung dan flu manusia.
Otoritas Kesehatan Hewan Internasional tidak memiliki data pasti sebaran virus ini sehingga wilayah distribusi internasional melalui hewan tidak diketahui. Penyakit ini dikategorikan endemi di AS. Penyebaran virus flu babi juga terjadi di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa (termasuk Inggris, Swedia, dan Italia), Afrika (Kenya), dan Asia timur (China dan Jepang).


B.Perbedaannya dengan flu biasa dan flu H5N1

Virus flu berubah dari tahun ke tahun, tetapi mereka berhubungan erat satu sama lain. Orang-orang yang terinfeksi flu di masa lalu biasanya memiliki kekebalan terhadap virus flu tersebut karena tubuh mereka telah membangun sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus flu yang telah menyerang.
2009 H1N1 influenza adalah virus flu baru dan sangat berbeda dari virus flu biasa. Kebanyakan orang hanya memiliki sedikit atau tidak punya kekebalan terhadap 2009 H1N1 influenza karena tubuh mereka tidak siap untuk melawan dari virus tersebut.
Influenza baru H1N1 cukup berbahaya, mudah menular dan dapat menimbulkan kematian karena virus strain baru influenza H1N1 ini lebih berbahaya dibanding flu musiman seperti virus flu A H1N1 , H2N1, H3N1 dan H3N2 yang biasa terdapat pada sesorang yang menderita flu musiman. Penyebaran flu baru H1N1telah menyebar di 99 negara dengan 55.867 kasus yang dilaporkan dan 238 kematian, sehingga Badan Kesehatan Dunia (WHO) menaikkan status kewaspadaan pandemi influenza baru A H1N1dari fase 5 ke fase 6 yang merupakan fase tertinggi.
Mekipun angka kematiannya (Case Fatality Rate/CFR) hanya sekitar 0,5% namun flu baru H1N1ini mudah menular. Sampai saat ini (24 Juni2009) di Indonesia sudah dilaporkan 2 kasus positif flu H1N1dan keduanya merupakan kasus impor yang artinya mereka tertular dari negara lain. Sedangkan flu burung H5N1 juga sangat berbahaya karena mematikan. Angka kematiannya lebih dari 80%. Namun saat ini di Indonesia penularan flu burung H5N1 masih sebatas dari unggas ke manusia (fase 3). Sampai saat ini belum ada penularan flu burung H5N1 antar manusia.

C.Penularan dan pencegahannya
.
penularan
Penularan flu babi ke manusia terjadi melalui babi yang terinfeksi, biasanya terjadi pada manusia yang jarang berhubungan langsung dengan babi. Transmisi antarmanusia memang telah terjadi namun hanya terjadi di kelompok tertutup.

Virus dapat menular dari manusia ke manusia semudah seperti flu musiman biasa yang dapat ditularkan lewat paparan percikan ludah (droplet) seorang yang terinfeksi melalui batuk atau bersin yang terhirup atau yang mencemari tangan atau permukaan benda.

Untuk mencegah terjadinya penularan, seorang yang menderita flu harus melakukan etika batuk/bersin dengan menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, bila flu berat sebaiknya tinggal di rumah sementara waktu, cuci tangan setelah beraktivitas, dan menjaga jarak dengan orang yang sehat.

Pencegahan penyakit flu babi
cara untuk mencegah tertular flu baru H1N1 dengan cara sebagai berikut
1. Biasakan cuci tangan memakai sabun dengan air bersih sesering mungkin.
2. Jagalah kebersihan diri dan lingkungan di sekitar Anda.
3. Etika batuk/bersin yaitu bila bersin atau batuk, tutup hidung dan mulut dengan tisu dan tisu dibuang di tempat sampah.
4. Jaga jarak atau kontak dengan orang lain terutama jika terlihat sakit flu.
5. Jangan meludah di sembarang tempat.
6. Hindari kontak dengan orang yang berasal atau baru bepergian dari negara terjangkit (lihat informasi negara yang terjangkit flu ini yang dikeluarkan oleh WHO).
7. Apabila sangat diperlukan harus bepergian ke negara terjangkit, lakukan tindakan pencegah yang diperlukan seperti cuci tangan sesering mungkin,
8. menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar,
9. hindari kontak dengan orang yang sedang flu, dan menggunakan masker yang telah direkomendasikan oleh Pejabat Berwenang Kesehatan setempat.
10. Bila menderita flu, segeralah periksa ke klinik terdekat, dokter praktek, Puskesmas, atau Rumah Sakit. Sehingga semakin cepat diperiksa kesehatannya akan semakin cepat mendapatkan pelayanan kesehatan.
11. Bila mengalami gejala flu segera ke dokter, Puskesmas, Rumah Sakit atau klinik terdekat.
Meningkatkan kewaspadaan di seluruh jajaran kesehatan serta mengirimkan Surat Edaran baru dari Menkes dan Dirjen P2PL yang menyatakan adanya kasus influenza H1N1 di bali dan Jakarta.
12. Meningkatkan aktivitas semua fasilitas kesehatan di RS, KKP, Laboratorium dan sarana kesehatan lainnya.
13. Meningkatkan kesiapan logistik serta kemampuan SDM.
14. Meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat (Jumpa Pers, Iklan Layanan Masyarakat, Talkshow di Radio dan Televisi, Poster dan Leaflet) .Masyarakat dapat menghubungi Posko Kejadian Luar Biasa (KLB) : Telp. (021) 4257125; Fax : (021) 42877588 ; Email : poskoklbp2pl@yahoo.com ; Call Center: (021) 30413700; Website Depkes : www.depkes.go.id dan www.penyakitmenular.info

Pemerintah Indonesia masih menggunakan pendeteksi panas tubuh (thermal scanner) dan cairan disinfektan untuk mengetahui warga yang baru datang dari luar negeri apakah terinfeksi penyakit flu babi ataupun flu singapura ataupun flu Hongkong.
Warga yang datang dan terdeteksi akan diperiksa di klinik yang sudah disediakan di bandara Soekarno Hatta dan 9 bandara Internasional lainnya seperti Bandara Juanda dan lain-lain. Selain itu menteri kesehatan juga akan berkerja sama dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengatasi masalah penyakit flu babi dan flu singapura ini.


BAB II
GEJALA H1N1


Gejala flu baru H1N1 yang dapat sama dengan seperti flu biasa (influenza like-illnes), seperti demam (> 38oC), batuk, pilek, letih, lesu, sakit tenggorokan mungkin disertai mual, muntah dan diare, bila semakin berat akan mengakibatkan sesak napas atau napas sesak yang menyebabkan terjadinya pneumonia yang mengakibatkan kematian Gejala virus termasuk demam, disorientasi, kekakuan pada sendi, muntah-muntah, dan kehilangan kesadaran yang berakhir pada kematian[3] Flu babi diketahui disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1[4] H1N2,[4] H3N1,[5] H3N2,[4] and H2N3.[6]
Di Amerika Serikat, hanya subtipe H1N1 lazim ditemukan di populasi babi sebelum tahun 1998. Namun sejak akhir Agusuts 1998, subtipe H3N2 telah diisolasi juga dari babi.
tanda dan gejala


Gejala utama virus flu babi pada manusia.[8]

Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, gejala influensa ini mirip dengan influensa. Gejalanya seperti demam, batuk, sakit pada kerongkongan, sakit pada tubuh, kepala, panas dingin, dan lemah lesu.
Dalam mendiagnosa penyakit ini tidak hanya perlu melihat pada tanda atau gejala khusus, tetapi juga catatan terbaru mengenai pasien. Sebagai contoh, selama wabah flu babi 2009 di Ciri-ciri orang yang terjangkit penyakit Flu babi :

 Kelelahan
 Demam
 Sakit Tenggorokan
 nyeri otot
 Kedinginan
 Batuk
 Bersin

. Beberapa orang juga mengalami diare dan muntah-muntah. Kebanyakan orang merasa lebih baik dalam waktu seminggu. Tetapi beberapa orang mendapatkan pneumonia (infeksi saluran nafas) atau penyakit serius lainnya. Beberapa orang harus dirawat di rumah sakit dan beberapa mati.


BAB III
PENGOBATAN

Pengobatan dapat dengan menggunakan berupa oral ataupun vaksin.berikut penjelasan mengenai pengobatan berupa oral ataupun vaksin :

1.Pengobatan dengan oral

Selama ini sebagian besar penderita flu babi dapat disembuhkan tanpa perawatan medis atau obat-obatan antiviral. Obat antiviral untuk influenza musiman dapat digunakan untuk mencegah dan mengobat pasien. Obat ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
1. adamantanes (amantadine dan remantadine) dan
2. antineuraminidase influenza (oseltamivir dan zanamivir).

Namun sejumlah virus flu mengembangkan resistensi terhadap obat antiviral sehingga mengurangi efektivitas obat dan perawatan. Virus flu babi yang berkembang di AS diketahui sensitif terhadap oselatmivir dan zanamivir namun imun terhadap amantadine dan remantadine.

Saat ini informasi yang ada belum cukup untuk membuat rekomendasi penggunaan antiviral dalam mencegah dan menangani infeksi flu babi. Petugas medis harus membuat keputusan berdasarkan kondisi pasien dan penyebaran virus di wilayahnya. Di Meksiko dan AS, pemerintah merekomendasikan penggunaan oseltamivir dan zanamivir.

a.Obat Antiviral

Obat antiviral adalah obat-obatan (pil, cairan atau obat hirup) yang memiliki aktifitas melawan virus flu, termasuk virus Influenza A (1N1) yang sekarang sedang ngetop. Obat ini bisa digunakan baik untuk pengobatan maupun pencegahan infeksi virus Influenza A (H1N1). Tapi tentu saja pemberian obat ini harus berdasarkan resep dokter. Dan harap diingat bahwa obat antiviral influenza hanya mempan untuk virus Influenza, tidak memberikan efek untuk virus lainnya meskipun gejala yang ditimbulkan mirip flu.
Setidaknya ada 4 obat antiviral influenza yang dapat digunakan, yaitu
 oseltamivir,
 zanamivir,
 amantadine dan
 rimantadine.

Dari keempat obat itu, berdasarkan pengujian laboratorium hanya oseltamivir dan zanamivir yang nampaknya dapat digunakan untuk mengobati influenza A (H1N1) yang berasal dari Meksiko dan Amerika Utara, karena virus Influenza A (H1N1) ternyata sensitif terhadap keduanya. Sementara itu sang virus resisten alias tahan terhadap amantadine dan rimantadine.

MUTASI NEURAMINIDASE

OSELTAMIVIR, obat antivirus influenza yang dikenal dengan sebutan Tamiflu, bekerja dengan cara menghambat neuraminidase, yaitu protein enzim yang berada pada permukaan virus. Dalam menghambat neuraminidase, oseltamivir menempel pada sisi aktif enzim tersebut sehingga enzim neuraminidase menjadi tidak aktif. Neuraminidase berperan dalam melepaskan virus yang baru terbentuk sehingga virus baru ini bisa menyebar dan menginfeksi sel yang lain.

Virus yang baru terbentuk sebagai hasil perkembangbiakan di dalam sel awalnya masih menempel pada permukaan sel melalui residu asam sialat. Untuk melepaskan virus dari membran sel inang, neuraminidase memotong residu asam sialat tersebut. Jika aktivitas neuraminidase dihambat oleh oseltamivir, virus yang baru terbentuk tidak bisa lepas untuk menyebar sehingga perkembangbiakan virus bisa dihentikan.

Kondisi ini akan membantu sistem pertahanan tubuh untuk memenangi pertarungan melawan virus influenza yang tengah menyerang sehingga orang yang terinfeksi bisa sembuh.
Namun, jika oseltamivir gagal menghambat aktivitas neuraminidase, virus akan tetap berkembang biak dan bisa menyebar dari sel yang satu ke sel yang lain, walaupun penderita diberikan obat Tamiflu. Keadaan ini sangat berbahaya dan dapat mengancam nyawa penderita. Sebagai contoh, kasus kematian penderita akibat terinfeksi H5N1 yang kebal terhadap Tamiflu antara lain dilaporkan terjadi di Vietnam serta akibat infeksi H1N1 yang kebal Tamiflu dilaporkan terjadi di Belanda.

MUTASI GEN ”NEURAMINIDASE”

Virus influenza bisa berubah menjadi kebal terhadap Tamiflu karena terjadi mutasi pada gen neuraminidase, yaitu gen penyandi protein neuraminidase. Mutasi adalah perubahan basa nukleotida pada molekul DNA atau gen, misalnya, perubahan basa sitosin (C) menjadi basa timin (T). Perubahan basa ini dapat mengakibatkan perubahan sandi genetik yang selanjutnya bisa mengubah residu asam amino dari protein yang disandi.

Gen neuraminidase berukuran 1.362 pasang basa dan menyandi protein neuraminidase, yang terdiri dari 454 residu asam amino. Mutasi C menjadi T pada basa nukleotida yang ke-763 mengubah residu asam amino yang ke-454 pada protein neuraminidase dari histidin menjadi tirosin.
Perubahan ini mengakibatkan tempat penempelan oseltamivir pada protein neuraminidase berubah sehingga oseltamivir tidak lagi bisa terikat pada neuraminidase. Akibatnya, aktivitas neuraminidase tidak bisa dihambat dan replikasi virus tidak bisa dihentikan oleh Tamiflu. Mutasi lain yang juga dilaporkan menimbulkan resistensi terhadap Tamiflu adalah mutasi yang mengubah residu asam amino ke-292 dari arginin menjadi lisin dan yang mengubah residu ke-294 dari asparagin menjadi serin.

Untuk mengantisipasi munculnya mutasi yang berbahaya pada virus influenza, sekuen atau urutan basa nukleotida DNA virus yang sedang berjangkit perlu dianalisis secara rutin. Perubahan gen neuraminidaseperlu dipantau guna mengantisipasi berjangkitnya virus yang resisten terhadap Tamiflu. Selain itu, obat antivirus influenza alternatif juga perlu dikembangkan. Pengobatan menggunakan beberapa senyawa dengan cara kerja yang berbeda juga perlu dipertimbangkan.

b.Manfaat Obat Antiviral

- Pengobatan

Jika Anda terserang flu, obat antiviral bisa membuat penyakit Anda berkurang dan membuat Anda merasa lebih baik lebih cepat. Obat ini juga mencegah komplikasi influenza yang lebih parah. Obat antiviral influenza akan lebih nyata khasiatnya jika dikonsumsi segera setelah penyakit menyerang (dalam waktu 2 hari), tetapi pengobatan harus terus dilakukan setelah 48 jam setelah gejala-gejala flu nampak, khususnya bagi para pasien yang dirawat di rumah sakit atau orang-orang yang beresiko tinggi terkena komplikasi terkait influenza.

- Pencegahan

Obat antiviral influenza juga dapat diberikan untuk mencegah influenza kepada orang yang tidak sakit, tetapi telah atau mungkin berdekatan dengan orang yang terserang influenza A (H1N1), misalnya keluarga atau perawatnya.
Saat digunakan untuk pencegahan flu, obat antiviral memiliki efektifitas sekitar 70 – 90%. Lamanya waktu mengkonsumsi tergantung pada kondisi khusus orang tersebut.

- Obat Antiviral Influenza di Pasaran

Dalam menghadapi wabah influenza A (H1N1) yang dikhawatirkan menjadi pandemi ini, otoritas kesehatan berbagai negara telah menyiapkan stok obat antiviral influenza. Obat-obatan tersebut adalah:
Tamiflu® (merek dagang dari Oseltamivir)
Tamiflu
Tamiflu
Struktur Molekul Oseltamivir
Struktur Molekul Oseltamivir

Obat ini disetujui oleh CDC Amerika untuk mengobati dan mencegah infeksi virus influenza A maupun influenza B pada orang berusia satu tahun atau lebih.

Relenza® (merek dagang dari Zanamivir)
Relenza
Relenza
Struktur Molekul Zanamivir
Struktur Molekul Zanamivir


Obat ini juga disetujui untuk mengobati infeksi virus influenza A dan influenza B pada orang yang berusia 7 tahun atau lebih, sedangkan jika digunakan untuk pencegahan bisa diberikan pada orang berusia 5 tahun atau lebih.
Obat antiviral influenza masih sangat mungkin berkembang mengingat virus influenza sangat mudah bermutasi membentuk varian virus influenza baru.
OSELTAMIVIR

c.cara kerja amandantin, rimantadin dan oseltamivir

Terapi antiviral
• inhibitor M2 misalnya amantadine (Symmetrel) dan rimantadine
• inhibitor neuraminidase misalnya oseltamivir (Tamiflu) dan zanamivir (Relenza)

Cara kerja amantadine dan rimantadine

• menghambat kerja protein M2 virus influenza yang bekerja sebagai protein
• saluran ion → menghalangi keluarnya RNA virus ke dalam sel tidak efektif terhadap virus influenza B karena virus influenza B tidak memiliki protein M2

Cara kerja oseltamivir

• menghambat pelepasan virus yang telah berkembang biak di dalam sel
• membuat virus tidak bisa keluar dari sel dan menginfeksi sel lain
• secara singkat : menghambat release
• efektif pada awal infeksi ketika masih terjadi replikasi virus.


2.Pengobatan dengan vaksin

Vaksin merupakan salah satu cara penanganan yang sangat berharga untuk melindungi orang saat terjadi epidemic influenza atau pandemic. Cara penanganan lainnya termasuk obat anti-viral, pembatasan/isolasi social dan perilaku higenis individu.
Vaksin influenza yang tidak aktif dapat diberikan pada saat yang bersamaan dengan vaksin suntik lainnya, akan tetapi dianjurkan vaksin diberikan pada lokasi injeksi yang berbeda.
Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk membuat persediaan vaksin yang cukup bagi seluruh penduduk dunia terhadap pandemic influenza tidak akan diketahui sebelum produsen vaksin berhasil menentukan seberapa banya kandungan aktif (antigen) yang dibutuhkan untuk membuat satu dosis vaksin Influenza A(H1N1) yang efektif.
Pada dua tahun terakhir kapasitas produksi vaksin influenza telah meningkat secara tajam dengan meningkatnya pengembangan fasilitas produksi serta kemajuan penelitian, termasuk penemuan dan penggunaan ”adjuvants”. ”Adjuvants” merupakan bahan yang ditambahkan pada vaksin untuk membuat vaksin tersebut semakin efektif, sehingga dapat mengurangi kebutuhan kandungan aktif (antigen).
Permintaan saat ini adalah kurang dari 500 juta dosis tiap tahunnya

Vaksin telah tersedia untuk melindungi 2009 H1N1 influenza.

Vaksin ini dibuat sama seperti vaksin flu biasa. Vaksin ini diharapkan aman dan efektif sebagaimana vaksin flu biasa. Vaksin ini tidak akan mencegah "penyakit seperti influenza" yang disebabkan oleh virus lainnya. Vaksin ini tidak akan mencegah flu biasa. Anda juga harus mendapatkan vaksin flu biasa jika Anda ingin terlindungi dari flu biasa.
Ada dua sediaan vaksin yang tersedia adalah:
o Vaksin tidak aktif (yaitu vaksin yang terdapat virus mati di dalamnya) disuntikkan ke dalam otot.
o Vaksin aktif contohnya adalah vaksin intranasal (vaksin semprot hidung)

Beberapa vaksin H1N1 yang tidak aktif berisi preservative thimerosal yang berguna agar vaksin tetap bebas dari kuman. Beberapa orang mengatakan bahwa thimerosal bisa menyebabkan autisme. Pada tahun 2004 sekelompok ahli di Institute of Medicine melakukan studi review untuk mengetahui kebenarannya, dan tidak menemukan hubungan antara thimerosal dan autisme. Studi lainnya mengatakan mendapatkan kesimpulan yang sama.
Kelompok yang dianjurkan untuk menerima vaksin H1N1 terlebih dulu adalah:
o Wanita hamil
o Orang yang hidup dengan bantuan alat atau bayi dengan umur kurang dari 6 bulan
o Perawat kesehatan dan tenaga medis darurat
o Siapa saja dari 6 bulan sampai usia 24 tahun karena semakin banyaknya vaksin yang tersedia,
kelompok-kelompok ini juga harus mendapatkan vaksinasi, yaitu:
o Siapa saja dari umur 25 sampai 64 tahun dengan kondisi medis yang kronis atau terdapat kelemahan sistem kekebalan tubuh
o Orang sehat mulai umur 25 sampai umur 64 tahun Dewasa umur 65 tahun dan lebih tua diatasnya

Kapan Dapat Vaksin?
Dapatkan vaksinasi segera ketika vaksin sudah tersedia.
Anak-anak usia lebih 9 tahun harus mendapatkan dua dosis vaksin dengan dua kali pemberian dalam sebulan. Anak-anak dan orang dewasa hanya perlu satu dosis.
a.Efek Samping Dari Vaksin 2009 H1N1 Influenza

Sebuah vaksin atau obat-obatan bisa menyebabkan masalah serius, seperti reaksi alergi yang parah. Tapi risiko dari vaksin yang menyebabkan bahaya serius atau kematian sangat kecil kemungkinannya.

Efek samping Ringan:

Rasa sakit, kemerahan, nyeri, atau bengkak di mana suntikan itu diberikan • pingsan (terutama remaja) Sakit kepala, nyeri otot • demam • mual, Jika masalah ini terjadi, biasanya dimulai segera setelah suntikan dan berakhir 1-2 hari.

Efek samping Berat:
Reaksi alergi yang berat dan mengancam jiwa sangat jarang. Jika terjadi, biasanya dalam beberapa menit sampai beberapa jam setelah suntikan

b.Tidak Boleh Divaksinasi Atau Harus Menunggu

Anda tidak boleh mendapatkan vaksin flu 2009 H1N1 jika Anda mendapat perawatan terhadap alergi yang parah misalnya alergi terhadap telur, atau alergi terhadap vaksin lainnya. Katakan kepada orang memberikan vaksin jika Anda memiliki alergi parah.
Juga katakan pada mereka kalau Anda pernah punya:
∞ Perawatan terhadap reaksi alergi setelah pemberian vaksin flu biasa,
∞ Guillain BarrĂ© Syndrome (penyakit lumpuh yang parah).
Hal tersebut mungkin bukan alasan untuk menghindari vaksin, tetapi staf medis dapat membantu Anda untuk memutuskan anda dapat vaksin atau tidak.
Jika Anda sedang atau sakit parah, Anda mungkin disarankan untuk menunggu sampai Anda kembali sehat sebelum mendapatkan vaksin. Jika Anda memiliki flu ringan atau penyakit lain, biasanya tidak perlu menunggu.
Wanita hamil atau menyusui bisa divaksinasi yang tidak aktif. Vaksinasi yang tidak aktif dapat diberikan pada waktu yang sama dengan vaksin lainnya, termasuk vaksin flu biasa. Kondisi yang tidak biasa, seperti demam tinggi atau perubahan perilaku. Tanda-tanda reaksi alergi yang parah dapat termasuk susah bernapas, suara serak atau mengi, kepucatan, lemah, jantung berdetak cepat atau pusing.

Perlakuan utama

− Panggil dokter, atau dapatkan orang untuk pergi ke dokter segera.
− Beritahu dokter apa yang terjadi, tanggal dan waktu yang terjadi, dan ketika vaksinasi diberikan.


BAB IV
KONDISI SAAT INI

Meski belum diketahui kapan puncak penyebarluasan pandemi influenza A H1N1 (flu babi), namun diperkirakan akan terjadi pada Desember 2009 - Januari 2010. Perkiraan itu didasarkan pada pengalaman terjadinya pandemi spanish flu (H1N1) tahun 1918.
Demikian dikemukakan Deputi Menteri Riset dan Teknologi Bidang Pengembangan Sipteknas, Prof. Dr. Amin Soebandrio, Sp.MK., pada seminar Perkembangan Vaksin Masa Depan di PT Bio Farma (Persero) Bandung, Kamis (13/8).
"Indonesia saat ini masuk gelombang satu. Kita berharap, puncak penyebaran tersebut tidak terjadi sehingga Departemen Kesehatan harus berupaya mencegahnya. Kalaupun terjadi, diharapkan kasusnya tidak terlalu banyak," ucapnya.
Kasus H1N1 di Asia, secara studi epidemilogi, terjadi peningkatan kasus hingga 200% dalam kurun waktu 10 hari, lebih banyak dibandingkan dengan kasus global yang mencapai 50%. "Angka kematian akibat H1N1 kecil, hanya 0,5%," ujarnya.

SUDAH MEMBAIK
Terkait kondisi pasien yang dirawat di Ruang Flamboyan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr. Primal Sujana, Sp.P.D.-K.P.T.I., salah seorang anggota Tim Penanggulangan Penyakit Infeksi Khusus RSHS Bandung, secara terpisah, mengatakan bahwa kondisi K (3), pasien terduga influenza A H1N1 yang dirawat sejak Rabu (5/8), sudah membaik. "Sudah tidak demam sampai siang tadi, tidak ada sesak napas, namun denyut jantungnya masih cepat. K akan diobservasi sampai ada kepastian positif atau negatif H1N1," katanya.
Sementara itu, pasien M (21), alat bantu nafas (ventilator) sudah dicabut sejak kemarin malam, obat yang diminumnya sudah banyak dikurangi. Meski demikian, belum diketahui kapan M bisa pulang karena ventilatornya baru dilepas. "Harus diobservasi lagi takut terjadi apa-apa," katanya. (A-62)***
• . Informasi Jumlah Kasus Flu A Baru H1N1
• • di dunia (21 Agustus 2009: Update ke-62)
• 168 Negara, 182.166 kasus positif flu A H1N1 dengan 1.799 kematian (angka kematian (CFR)= 0,98%) yang tersebar di semua benua. Peta kasus di dunia dapat dilihat (di sini).
• • di Indonesia (23 Agustus 2009)
Data Jumlah Kumulatif Flu A H1N1 di Indonesia sampai dengan 23 Agustus 2009 sebanyak 1.005 orang dengan 5 orang di antaranya meninggal dunia.
Virus, yang merupakan parasit bagi makhluk hidup, juga senantiasa ”bersiluman” dengan cara bermutasi guna mengelabui sistem pertahanan sel inang. Cara ini memudahkan virus untuk memasuki sel dan membuat virus bisa luput dari serangan sel inang. Virus kemudian bisa berbiak di dalam sel inang dan bisa mengakibatkan kematian bagi organisme yang diinfeksi. Bukan hanya itu, dengan bermutasi, virus juga bisa menjadi kebal terhadap obat yang digunakan manusia untuk menumpas virus.
Salah satu virus yang berbahaya bagi manusia adalah virus influenza. Pada kurun lima tahun terakhir masyarakat dunia dihebohkan oleh penyebaran salah satu subtipe influenza A, yaitu H5N1 yang disebut flu burung. Virus ini dilaporkan telah membunuh 262 orang di seluruh dunia. Di Indonesia saja korbannya mencapai 115 orang.
Belum selesai menghadapi H5N1, kini masyarakat dunia dikejutkan oleh merebaknya infeksi dan penularan virus influenza A subtipe H1N1. Dalam waktu yang relatif singkat, virus ini telah membunuh lebih dari 400 orang di seluruh dunia. Dunia pun dinyatakan dalam keadaan pandemi influenza.
Di tengah kecemasan menghadapi pandemi, dilaporkan bahwa mulai ada virus influenza, baik H5N1 maupun H1N1, yang kebal terhadap Tamiflu. Padahal, Tamiflu dijadikan obat antivirus andalan untuk menangkal penyebaran H5N1 ataupun H1N1.
Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan virus influenza A (H1N1) atau flu babi sudah dinyatakan tidak lebih ganas dari penyakit influenza biasa.
"Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyatakan bahwa ini tidak lebih ganas dari flu biasa. Tapi kita tetap melanjutkan upaya pengendalian yang sudah dilakukan," katanya di Jakarta.
Sebelumnya Direktur Jenderal WHO Margaret Chan menyatakan bahwa hampir semua pasien yang mengalami gejala penyakit influenza A (H1N1) bisa pulih total dalam satu minggu bahkan tanpa perawatan medis sekalipun.
DINKES PANGKALPINANG SALURKAN 1.800 OSELTAMIVIR

Pangkalpinang, 29/10 (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, menyalurkan 1.800 butir oseltamivir untuk mengantisipasi wabah flu A-H1N1 di daerah itu.
Kepala UPT Farmasi Kota Pangkalpinang Sudarsono di Pangkalpinang, Kamis, mengatakan Dinkes Pangkalpinang berkoordinasi dengan UPT Farmasi telah menyalurkan 1.800 butir dari persediaan 4.080 butir oseltamivir di lima puskemas kecamatan Kota Pangkalpinang. "Penyaluran obat oseltamivir dilakukan pada sembilan puskemas dan jumlah obat yang disalurkan ke masing-masing puskesmas sebanyak 200 butir dengan nilai transaksi Rp28.800.000," ujarnya. Menurut dia, penyaluran obat oseltamivir pada sembilan puskesmas itu, hanya 18 persen dari persediaan karena tidak ditemukan penderita flu A-H1N1) di Kecamatan Pangkalbalam, Bukit Intan, Gerunggang, Taman Sari dan Kecamatan Rangkui Kota Pangkalpinang. "Kami menyalurkan obat itu berdasarkan permintaan pukesmas dan rumah sakit.
Tetapi saat ini belum ada permintaan dari puskesmas karena tidak ada masyarakat yang tertular flu A-H1N1," ujarnya. Ia menjelaskan, sebanyak 4.080 butir oseltamivir dipasok dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan dengan mengunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Pangkalpinang. Pasokan pertama dari Dinkes provinsi sebanyak 1.480 butir oseltamivir secara gratis dan pasokan kedua dari Depkes sebanyak 2.600 butir seharga Rp41, 6 juta dengan menggunakan APBD.
"Harga oseltamivir 75 mg berbentuk kapsul itu Rp16 ribu per butir, oleh karenanya dinkes akan menyalurkannya dengan tepat guna untuk pencegahan flu A-H1N1," ujarnya. Ia menjelaskan fungsi oseltamivir adalah meningkatkan daya tubuh terhadap virus H1N1. "Bagi penderita flu A-AH1N1 dewasa dibutuhkan 10 butir oseltamivir dengan meminumnya 2 kali sehari dalam lima hari, sementara untuk anak-anak oseltamivir yang dibutuhkan bervariasi dari lima butir hingga enam butir selama lima hari," ujarnya.

Oleh karena itu, ia menghimbau masyarakat untuk mewaspadai virus flu itu, dengan menerapkan pola hidup sehat dan tidak melakukan kontak langsung dengan ternak babi serta penderita flu A-H1N1. "Masyarakat harus tetap tenang dalam menghadapi wabah virus flu ini dan selalu meningkatkan pola hidup sehat," ujarnya.
H1N1 Dinyatakan Tidak Lebih Ganas Dari Flu Biasa

Virus H1N1 (c)wikipedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar